Definisi
Mioma
uteri adalah neoplasma jinak yang berasal dari lapisan otot uterus dan jaringan
ikat yang menumpangnya, sehingga dalam kepustakaan juga dikenal istilah
fibromioma, leiomioma, ataupun fibroid.(Hanifa dkk, 2008)
Epidemiologi
Berdasarkan otopsi Novak
menemukan 27 % wanita berumur 25 tahun mempunyai sarang mioma, pada wanita yang
berkulit hitam ditemukan lebih banyak lagi. Mioma uteri belum pernah dilaporkan
terjadi sebelum menarki . Setelah menopause hanyakira-kira 10% mioma yang masih
bertumbuh. Di Indonesia mioma uteri ditemukan 2,39-11,7 % dari semua penderita genekologi
yang dirawat.(Hanifa dkk, 2008)
Etiopatogenesis
Etiologi
pasti belum diketahui, tetapi terdapat korelasi antara pertumbuhan tumor dengan
peningkatan reseptor estrogen-progesteron pada jaringan mioma uteri, serta
adanya faktor predisposisi yang bersifat herediter. Pada ilmuwan telah
mengidentifikasi kromosom yang membawa 145 gen yang diperkirakan berpengaruh
pada pertumbuhan fibroid. Beberapa ahli mengatakan bahwa fibroid uteri diwariskan
dari gen sisi paternal. Mioma biasanya membesar pada saat kehamilan dan
mengecil setelah menopause, sehingga diperkirakan dipengaruhi juga oleh
hormon-hormon reproduksi seperti estrogen dan progesteron. Selain itu, sangat
jarang ditemukan sebelum menarke, dapat tumbuh dengan cepat selama kehamilan
dan kadang mengecil setelah menopause (Hakim, 2009).
Meyer
dan De Snoo mengajukan teori Cell nest atau teori genitoblast. Percobaan
Lipschutz yang memberikan estrogen kepada kelinci percobaan ternyata
menimbulkan tumor fibromatosa baik pada permukaan maupun pada tempat lain dalam
abdomen. Efek fibromatosa ini dapat dicegah dengan pemberian preparat
progesteron atau testosteron. Puukka dan kawan-kawan menyatakan bahwa reseptor
estrogen pada mioma lebih banyak didapati dari pada miometrium normal. Menurut
Meyer asal mioma adalah sel imatur, bukan dari selaput otot yang matur (Hanifa,
2008).
Klasifikasi Mioma Uteri
Sarang
mioma di uterus dapat berasal dari serviks uteri (1-3%) dan selebihnya adalah
dari korpus uteri. Menurut tempatnya di uterus dan menurut arah pertumbuhannya,
maka mioma uteri dibagi 4 jenis antara lain:
1. Mioma submukosa
2. Mioma intramural
3. Mioma subserosa
4. Miomaintraligamenter
Gambar Jenis-jenis mioma uterus
Jenis
mioma uteri yang paling sering adalah jenis intramural (54%), subserosa (48%),
submukosa (6,1%) dan jenis intraligamenter (4,4%) (Anonim, 2008).
1. Mioma submukosa
Berada
di bawah endometrium dan menonjol ke dalam rongga uterus. Jenis ini dijumpai
6,1% dari seluruh kasus mioma. Jenis ini sering memberikan keluhan gangguan
perdarahan. Mioma jenis lain meskipun besar mungkin belum memberikan keluhan
perdarahan, tetapi mioma submukosa, walaupun kecil sering memberikan keluhan
gangguan perdarahan.
Mioma
submukosa umumnya dapat diketahui dari tindakan kuretase, dengan adanya
benjolan waktu kuret, dikenal sebagai currete bump dan dengan
pemeriksaan histeroskopi dapat diketahui posisi tangkai tumor.
Tumor
jenis ini sering mengalami infeksi, terutama pada mioma submukosa pedinkulata.
Mioma submukosa pedinkulata adalah jenis mioma submukosa yang mempunyai
tangkai. Tumor ini dapat keluar dari rongga rahim ke vagina, dikenal dengan
nama mioma geburt atau mioma yang dilahirkan, yang mudah mengalami
infeksi, ulserasi dan infark. Pada beberapa kasus, penderita akan mengalami
anemia dan sepsis karena proses di atas.
2. Mioma intramural
Terdapat
di dinding uterus di antara serabut miometrium. Karena pertumbuhan tumor,
jaringan otot sekitarnya akan terdesak dan terbentuk simpai yang mengelilingi
tumor. Bila di dalam dinding rahim dijumpai banyak mioma, maka uterus akan
mempunyai bentuk yang berbenjol-benjol dengan konsistensi yang padat. Mioma
yang terletak pada dinding depan uterus, dalam pertumbuhannya akan menekan dan mendorong
kandung kemih ke atas, sehingga dapat menimbulkan keluhan miksi.
3. Mioma subserosa
Apabila mioma tumbuh keluar dinding uterus sehingga menonjol pada permukaan
uterus diliputi oleh serosa. Mioma subserosa dapat tumbuh di antara kedua
lapisan ligamentum latum menjadi mioma intraligamenter.
4. Mioma intraligamenter
Mioma subserosa yang tumbuh menempel pada jaringan lain, misalnya ke
ligamentum atau omentum kemudian membebaskan diri dari uterus sehingga disebut wondering
parasitis fibroid. Jarang sekali ditemukan satu macam mioma saja dalam satu
uterus. Mioma pada servik dapat menonjol ke dalam satu saluran servik sehingga
ostium uteri eksternum berbentuk bulan sabit.
Apabila
mioma dibelah maka tampak bahwa mioma terdiri dari bekas otot polos dan
jaringan ikat yang tersusun seperti kumparan (whorie like pattern)
dengan pseudokapsul yang terdiri dari jaringan ikat longgar yang terdesak
karena pertumbuhan.
Perubahan Sekunder
a) Atrofi: sesudah menopause ataupun sesudah kehamilan mioma uteri menjadi kecil.
b) Degenerasi hialin: perubahan ini sering terjadi terutama pada penderita
berusia lanjut. Tumor kehilangan struktur aslinya menjadi homogen. Dapat
meliputi sebagian besar atau hanya sebagian kecil daripadanya, seolah-olah
memisahkan satu kelompok serabut otot dari kelompok lainnya.
c) Degenerasi kistik: dapat meliputi daerah kecil maupun luas, dimana sebagian
dari mioma menjadi cair, sehingga terbentuk ruangan-ruangan yang tidak teratur
berisi seperti agar-agar, dapat juga terjadi pembengkakan yang luas dan
bendungan limfe sehingga menyerupai limfangioma. Dengan konsistensi yang lunak
ini tumor sukar dibedakan dari kistoma ovarium atau suatu kehamilan.
d) Degenerasi membatu (calcireous degeneration): terutama terjadi pada wanita
berusia lanjut oleh karena adanya gangguan dalam sirkulasi. Dengan adanya
pengendapan garam kapur pada sarang mioma maka mioma menjadi keras dan
memberikan bayangan pada foto Rontgen.
e) Degenerasi merah (carneous degeneration): perubahan ini biasanya terjadi
pada kehamilan dan nifas. Patogenesis: diperkirakan karena suatu nekrosis
subakut sebagai gangguan vaskularisasi. Pada pembelahan dapat dilihat sarang
mioma seperti daging mentah berwarna merah disebabkan oleh pigmen hemosiderin
dan hemofusin. Degenerasi merah tampak khas apabila terjadi pada kehamilan muda
disertai emesis, haus, sedikit demam, kesakitan, tumor pada uterus membesar dan
nyeri pada perabaan. Penampilan klinik ini seperti pada putaran tangkai tumor
ovarium atau mioma bertangkai.
f) Degenerasi lemak: jarang terjadi, merupakan kelanjutan degenerasi hialin.
GejalaKlinis
Gejala
yang dikeluhkan sangat tergantung pada tempat sarang mioma ini berada (servik,
intramural, submukus, subserus), besarnya tumor, perubahan dan komplikasi yang
terjadi. Keluhan yang dirasakan penderita Mioma Uteri sebagai keluhan utama
pada umumnya adalah :
Perdarahan abnormal
Gangguan
perdarahan yang terjadi umumnya adalah hipermenore, menoraghi dan dapat juga
terjadi metroragia . Hal ini sering menyebabkan penderita juga mengalami anemia
dari perdarahan yang terus-menerus (Lacey.C.G., 2007).
Mekanisme
terjadinya perdarahan abnormal ini sampai saat ini masih menjadi perdebatan.
Beberapa pendapat menjelaskan bahwa terjadinya perdarahan abnormal ini
disebabkan oleh abnormalitas dari endometrium (Lacey.C.G., 2007). Tetapi saat
ini pendapat yang dianut adalah bahwa perdarahan abnormal ini disebabkan karena
pengaruh ovarium sehingga terjadilah hiperplasia endometrium sampai
adenokarsinoma, permukaan endometrium yang lebih luas, atrofi endometrium di
atas mioma submukosum, dan miometrium tidak dapat berkontraksi optimal karena
adanya sarang mioma diantara serabut miometrium . Pada Mioma Uteri submukosum
diduga terjadinya perdarahan karena kongesti, nekrosis, dan ulserasi pada
permukaan endometrium (Muzakir, 2008)
Nyeri
Rasa
nyeri bukanlah gejala yang khas tetapi dapat timbul karena gangguan sirkulasi
darah pada sarang mioma. Pada pengeluaran mioma submukosum yang akan
dilahirkan, pula pertumbuhannya yang menyempitkan kanalis servikalis dapat
menyebabkan juga dismenore. Selain hal diatas, penyebab timbulnya nyeri pada
kasus mioma uteri adalah karena proses degenerasi. Selain itu penekanan pada
visera oleh ukuran mioma uteri yang membesar juga bisa menimbulkan keluhan
nyeri. Dengan bertambahnya ukuran dan
proses inflamasi juga menimbulkan rasa yang tidak nyaman pada regio
pelvis.(Muzakir, 2008)
Efek penekanan
Gangguan
ini tergantung dari besar dan tempat mioma uteri. Penekanan oleh mioma uteri
pada vesiko urinaria menimbulkan keluhan-keluhan pada traktus urinarius, seperti
perubahan frekuensi miksi sampai dengan keluhan retensio urin hingga dapat
menyebabkan hidroureter dan hidronefrosis (Lacey.C.G., 2007)..
Konstipasi
dan tenesmia juga merupakan keluhan pada penderita mioma uteri yang menekan
rektum. Dengan ukuran yang besar berakibat penekanan pada vena-vena di regio
pelvis yang bisa menimbulkan edema tungkai (Muzakir, 2008)
Gejala akibat Komplikasi
-
Degenerasi ganas
Mioma
uteri yang menjadi leimiosarkoma ditemukan hanya 0,32-0,6% dari seluruh kasus
mioma uteri serta merupakan 50-75% dari semua sarkoma uterus. Keganasan umumnya
baru ditemukan pada pemeriksaan histologi uterus yang telah diangkat.
Komplikasi ini dicurigai jika ada keluhan nyeri atau ukuran tumor yang semakin
bertambah besar terutama jika dijumpai pada penderita yang sudah menopause
(Lacey.C.G., 2007).
-
Anemia
Anemia
timbul karena seringkali penderita mioma uteri mengalami perdarahan pervaginam
yang abnormal. Perdarahan abnormal pada kasus mioma uteri akan mengakibatkan
anemia defisiensi besi(Marjono,
2008)
-
Torsi
Sarang
mioma yang bertangkai dapat mengalami torsi, timbul gangguan sirkulasi akut
sehingga mengalami nekrosis. Dengan demikian timbul sindroma abdomen akut, mual,
muntah dan syok
-
Infertilitas
Infertilitas
dapat terjadi apabila sarang mioma menutup atau menekan pars interstisialis
tuba, sedangkan mioma uteri submukosum juga memudahkan terjadinya abortus oleh
karena distorsi rongga uterus. Penegakkan diagnosis infertilitas yang dicurigai
penyebabnya adalah mioma uteri maka penyebab lain harus disingkirkan (Lacey.C.G., 2007).
Diagnosis
1.
Anamnesis
Dalam anamnesis dicari keluhan utama serta gejala klinis mioma lainnya,
faktor resiko serta kemungkinan komplikasi yang terjadi.
2.
Pemeriksaanfisik
Pemeriksaan
status lokalisdenganpalpasi abdomen.Mioma uteri
dapatdidugadenganpemeriksaanluarsebagai tumor yang keras, bentuk yang
tidakteratur, gerakanbebas, tidaksakit.
3.
Pemeriksaanpenunjang
a. Pemeriksaanlaboratorium
Akibat
yang terjadipadamioma uteri adalah anemia akibatperdarahan uterus yang
berlebihandankekuranganzatbesi.Pemeriksaaanlaboratorium yang
perludilakukanadalahdarahlengkap (DL) terutamauntukmencarikadarHb. Pemeriksaaan
lab lain disesuaikandengankeluhanpasien.
b. Imaging
1)
Pemeriksaaan dengan USG akan didapat massa
padat dan homogen pada uterus. Mioma uteri berukuran besar terlihat sebagai
massa pada abdomen bawah dan pelvis dan kadang terlihat tumor dengan
kalsifikasi.
2)
Histerosalfingografi digunakan untuk
mendeteksi mioma uteri yang tumbuh ke arah kavum uteri pada pasien infertil.
3)
MRI lebih akurat untuk menentukan lokasi,
ukuran, jumlah mioma uteri, namun biaya pemeriksaan lebih mahal.
Diagnosis banding yang perlu kita pikirkan tumor abdomen
di bagian bawah atau panggul ialah mioma subserosum dan kehamilan; mioma
submukosum yang dilahirkan harus dibedakan dengan inversio uteri; mioma
intramural harus dibedakan dengan suatu adenomiosis, khoriokarsinoma, karsinoma
korporis uteri atau suatu sarkoma uteri. USG abdominal dan transvaginal dapat
membantu dan menegakkan dugaan klinis.
Diagnosis banding
- Adenomiosis
- Neoplasmaovarium
- Kehamilan
Penanganan
Penanganan mioma menurut usia, paritas, lokasi dan ukuran
tumor
Tidak semua mioma uteri
memerlukan terapi pembedahan. Kurang lebih 55% dari semuakasus mioma uteri
tidak membutuhkan suatu pengobatan apapun, apalagi jika ukuran mioma uteri
masih kecil dan tidak menimbulkan keluhan.
Penanganan mioma uteri
tergantung pada usia, paritas, lokasi dan ukuran tumor, dan terbagi atas :
- Penanganankonservatif
Cara
penanganan konservatif dapat dilakukan sebagai berikut :
-
Observasidenganpemeriksaan
pelvis secaraperiodiksetiap 3-6 bulan.
-
Monitor
keadaanHb
-
Pemberianzatbesi
-
Penggunaan agonis GnRH,
agonis GnRH bekerja dengan menurunkan regulasi gonadotropin yang
dihasilkan oleh hipofisis anterior. Akibatnya, fungsi ovarium menghilang dan diciptakan keadaan
”menopause” yang reversibel. Sebanyak 70% mioma mengalam reduksi dari ukuran
uterus telah dilaporkan terjadi dengan cara ini,
menyatakan kemungkinan manfaatnya pada pasien perimenopausal dengan menahan atau mengembalikan pertumbuhan mioma sampai
menopause yang sesungguhnya mengambil alih.
Tidak terdapat resiko penggunaan agonis GnRH jangka panjang dan kemungkinan rekurensi mioma setelah terapi dihentikan tetapi,
hal ini akan segera didapatkan dari pemeriksaan klinis yang dilakukan (Muzakircit
Alexander, 2004).
- Penangananoperatif
Indikasi operasi atau pembedahan pada penderita mioma
uteri adalah :
- Perdarahan pervaginam abnormal yang memberat
- Ukuran tumor yang besar
- Ada kecurigaan perubahan ke arah keganasan terutama jika pertambahanukuran
tumor setelah menopause
- Retensio urin
- Tumor yang menghalangi proses persalinan
- Adanya torsi
(Muzakircit Moore, 2001).
Jenisoperasi
yang dilakukanpadamioma uteri dapatberupa :
-
Miomektomi
Miomektomi adalah pengambilan
sarang mioma tanpa pengangkatan rahim/uterus (MuzakircitRayburn, 2001). Miomektomi
lebih sering di lakukan pada penderita mioma uteri secara umum. Suatu studi mendukung
miomektomi dapat dilakukan pada wanita yang masih ingin be reproduksi tetapi belum
ada analisa pasti tentang teori ini tetapi penatalaksanaan ini paling
disarankan kepada wanita yang belum memiliki keturunan setelah penyebab lain
disingkirkan (MuzakircitChelmow, 2005).
-
Histerektomi
Histerektomi adalah tindakan
operatif yang dilakukan untukmengangkat rahim, baik sebahagian (subtotal) tanpa
serviks uteri ataupun seluruhnya (total) berikut serviks uteri
(MuzakircitPrawirohardjo, 2001).
Histerektomi
dapat dilakukan dengan 3 cara, yaitu dengan pendekatan perabdominal
(laparotomi), pervaginam, dan pada beberapa
kasus secara laparoskopi. Tindakan histerektomi pada mioma uteri sebesar 30%
dari seluruh kasus.Tindakan histerektomi pada pasien dengan mioma uteri
merupakan indikasi bila didapatkan keluhan menorrhagia, metrorrhagia, keluhan obstruksi
pada traktus urinarius, dan ukuran uterus sebesar usia kehamilan 12-14 minggu
(Hadibroto, 2005).
Histerektomi
perabdominal dapat dilakukandengan 2 cara, yaitu total abdominal histerektomi
(TAH) dan subtotal abdominal histerektomi (STAH). Masing-masing prosedur histerektomi
ini memiliki kelebihan dan kekurangan. STAH dilakukan untuk menghindari risiko operasi
yang lebih besar, seperti perdarahan yang banyak, trauma operasi pada ureter,
kandung kemih dan rektum. Namun dengan melakukan STAH akan menyisakan serviks,
dimana kemungkinan timbulnya karsinoma serviks dapat terjadi. Dengan menyisakan
serviks, menurut penelitian didapatkan data bahwa terjadinya dyspareunia akan lebih
rendah dibandingkan dengan yang menjalani TAH sehingga akan tetap mempertahankan
fungsi seksual. Pada TAH, jaringan granulasi yang timbul pada vagina dapat menjadi
sumber timbulnya sekret vagina dan perdarahan pasca operasi dimana keadaan ini tidak
terjadi pada pasien yang menjalani STAH (Hadibroto, 2005).
Tindakan
histerektomi juga dapat dilakukan melalui pendekatan vagina, dimana tindakan operasi
tidak melalui insisi pada abdomen. Histerektomi pervaginam jarang dilakukan karena
uterus harus lebih kecil dari telor angsa dan tidak ada perlekatan dengan sekitarnya.
Secara umum, histerektomi vaginal hamper seluruhnya merupakan prosedur operasi ekstraperitoneal,
dimana peritoneum yang dibuka sangat minimal sehingga trauma yang mungkin timbul
pada usus dapat diminimalisasi. Selain itu, kemungkinan terjadinya perlengketan
paska operasi juga lebih minimal. Masa penyembuhan pada pasien yang menjalani histerektomi
vaginal lebih cepat dibandingkan dengan yang menjalani histerektomi abdominal
(Hadibroto, 2005).
.
Kriteria
menurut American College of Obstetricians Gynecologists (ACOG) untuk histerektomi
adalah sebagai berikut :
-
Terdapatnya
1 sampai 3 mioma asimptomatik atau yang dapat teraba dari luar dan dikeluhkan oleh
pasien.
-
Perdarahan
uterus berlebihan, meliputi perdarahan yang banyak dan bergumpal-gumpal atau berulang-ulang
selama lebih dari 8 haridan anemia akibat kehilangan darah akut atau kronis.
-
Rasa
tidak nyaman di pelvis akibat mioma uteri meliputi nyeri hebat dan akut, rasa
tertekan punggung bawah atau perut bagian bawah yang kronis dan penekanan pada vesikaurinaria
mengakibatkan frekuensi miksi yang sering (MuzakircitChelmow, 2005).
Penatalaksanaan
mioma uteri pada wanita hamil
Selama
kehamilan, terapi awal yang memadai adalah tirah baring, analgesia dan
observasi terhadap mioma. Penatalaksanaan konservatif selalu lebih disukai
apabila janin imatur. Namun, pada torsi akut atau perdarahan intra abdomen
memerlukan interfensi pembedahan. Seksio sesarea merupakan indikasi untuk
kelahiran apabila mioma uteri menimbulkan kelainan letak janin, inersia uteri
atau obstruksi mekanik (Muzakir cit Taber, 2004).







0 komentar:
Posting Komentar