This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Kamis, 10 November 2016

BAHAYA !! SUNTIK SILIKON PENIS

Latar Belakang
Pada tahun 1899, Robert Gersuny seorang ahli bedah dari Vienna untuk pertamakalinya menyuntikkan mineral oil ke dalam scrotum dimana bertujuan untuk mengganti testis pada pasien yang sudah menjalani bilateral Orchiectomy karena penyakit Tuberculosis epididymitis.

Kesuksesannya dalam operasi ini akhirnya mendorong orang untuk menggunakan mineral oil pada jaringan lunak khususnya untuk mengurangi kekerutan pada wajah.

Akhir-akhir ini mineral oil banyak di suntikkan ke daerah subkutan penis dengan tujuan untuk memperbesar penis. Namun banyak di temukan kasus dimana setelah menyuntikkan mineral oil terjadi komplikasi seperti granulomatous hingga dalam waktu cepat atau lambat akan terjadi deformitas, nyeri, serta tanda tanda inflamasi.

Makin banyak pria yang menjadi korban klinik khusus laki-laki. Mereka kebanyakan menjadi korban pembesaran alat kelamin demikian tajuk di sebuah surat kabar.

Menurut dr. Susanto Suryaatmaja, MS, Sp.And. Pada setahun terakhir, setiap bulan terdapat 2 sampai 3 pasien yang mengunjungi di poli Andrologi Rumah Sakit Dr. Soetomo Surabaya, dengan keluhan alat kelamin rusak baik bentuk dan ukuran alat vitalnya menjadi tak karuan setelah dipermak di klinik tersebut. Padahal sebelumnya jarang menerima pasien seperti ini. Kebanyakan korban klinik tersebut adalah laki-laki berusia 20-30 tahun. Rata-rata mereka tergiur oleh iklan yang mengaku sanggup memperbesar alat kelamin dalam waktu singkat. Biasanya klinik itu menggunakan silikon cair (Jawa pos, 2007). Ada pula pasien dengan keluhan yang sama datang ke Rumah sakit yang mengaku ikut-ikutan teman memperbesar diameter alat kelamin dengan cara menyuntik penis dengan cairan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan di Papua. Akibat dari penyuntikan dengan silikon cair atau cairan dan tumbuh-tumbuhan dari papua, penis menjadi besar dikulit sekitar glans penis dan mengeras serta timbul beberapa tonjolan. Beberapa pria meminta pembesaran penis untuk alasan alasan fungsional. Namun demikian mayoritas mencari untuk tujuan estetika untuk menegakkan citra macho (perkasa) untuk urusan seks. Penis pada pria dewasa sehat bermacam macam ukurannya, jadi untuk menetapkan pemanjangan penis untuk individu dengan mikropenis agar mampu berdiri untuk mengeluarkan air seni, untuk memudahkan penetrasi selama hubungan seks dan dari sudut pandang sosial untuk menghindari rasa malu ketika dilihat oleh orang lain.



Silikonoma Penis

1.       Definisi Silikon

Silikonoma  adalah granuloma kronik  k. Silikonoma atau sclerosing lipogranuloma adalah suatu kondisi kulit yang ditandai dengan banyaknya granuloma-granuloma serta fibrosis yang terjadi pada jaringan lemak subkutan akibat dari injeksi silikone maupun mineral oil lainnya.  Silikonoma penis terjadi akibat injeksi cairan viskositas tinggi untuk tujuan membesarkan ukuran maupun merubah kontur penis. Hal ini menyebabkan konsekuensi rusaknya fungsi seksual dari organ tersebut.

Silikon adalah polimer non organik yang bervariasi, dan cairan, karet, hingga sejenis plastik keras. Beberapa karakteristik khusus silicon, tak bau, tak berwarna, kedap air serta tak rusak akibat bahan kimia dan proses oksidasi, tahan dalam suhu tinggi serta tidak menghantarkan listrik. Didunia kedokteran silicon dikategorikan sebagai bahan terbaik untuk melakukan perbaikan bagian tubuh, karena penolakan jaringan tubuh terhadap silicon tergolong rendah. Ada tiga jenis silicon yang secara medis aman, silicon padat, silicon gel, silicon cair.






                                    Gambar rumus kimia dimethylsiloxane


Silikon penis adalah memperbesar ukuran penis demi kepuasan pasangan. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan kepercayaan diri dan pemahaman seksual yang baik bersama pasangan. Upaya pembesaran penis dengan cara menyuntikkan silikon yang dilakukan oleh tenaga non medis sehingga yang terjadi adalah kerusakan penis.





 













































 
                      Gambar A                                       Gambar B

            Keterangan : Gambar A – Silikon cair yang akan di suntikkan ke penis

                                Gambar B – Penis yang bentuknya rusak akibat suntik silikon. 
2.       Fungsi dan Anatomi Penis

            Penis adalah salah satu organ reproduksi eksternal pria yang menjadi saluran keluar bagi urin ketika kencing dan semen (air mani) saat ejakulasi. Fungsi penis sebagai alat reproduksi sangat penting.


















Gambar Anatomy Penis

Secara umum, fungsi penis ada dua yaitu:

  1. Urination, penis berfungsi sebagai tempat keluarnya air seni atau urin dari kandung kemih.
  2. Ejakulasi, penis berfungsi untuk melepaskan semen dari kelenjar prostat dan sperma dari testis.

Jadi dapat disimpulkan bahwa fungsi penis berkaitan dengan fungsi reproduksi, seksual dan ekskresi. Menjalankan fungsi ekskresi, penis bertugas mengeluarkan cairan sisa metabolisme yang tidak dibutuhkan tubuh, fungsi reproduksi untuk menyalurkan sel sperma ke dalam rahim wanita agar dapat membuahi sel telur wanita (procreation). Dan fungsi seksual sebagai alat untuk melakukan aktifitas seksual baik itu bersama pasangan maupun sendiri (recreation).

Struktur internal penis terdiri dari dua ruangan berbentuk jaringan (corpus cavernosa) yang berjalan di sepanjang penis, uretra (tabung untuk mengeluarkan urin dan ejakulasi), jaringan erektil yang mengelilingi uretra, dua arteri utama, dan beberapa pembuluh darah dan saraf. Bagian terpanjang dari penis adalah shaft, bagian ujung atas penis terdapat kepala berbentuk cendawan yang disebut glans penis.

Secara umum, penis terdiri atas tiga bagian utama, yang terbuat dari bahan seperti busa yang dapat terisi darah, yaitu:

  1. Dua buah Corpus Cavernosa di kiri dan kanan atas, Kedua Corpus Cavenosa ini diliputi oleh jaringan ikat yang disebut tunica albuginea, satu lapisan jaringan kolagen yang padat dan di luarnya ada jaringan yang kurang padat yang disebut fascia buck.
  2. Korpus Spongiosum, yang berada di bawah dua corpus cavenosa dan mengelilingi uretra.

Ketika seorang pria medapat stimulasi seksual dan terangsang, saraf di sekitar penis menjadi aktif, menyebabkan otot-otot sekitar pembuluh darah menjadi rileks sehingga darah mengalir lebih banyak ke dalam penis membuat penis kaku dan keras atau tegak.



Corpus Cavernosa

Corpus cavernosa adalah dua ruangan yang mengisi sebagian besar penis. Ruang-ruang ini terisi jaringan spons yang mencakup otot, ruang terbuka, pembuluh darah dan arteri. Ereksi terjadi ketika corpus cavernosa terisi dengan darah dan berkembang.

Ereksi ini mengencangkan pembuluh darah sehingga darah terjebak dan tidak bisa meninggalkan penis, memungkinkan penis untuk tetap tegak selama beberapa menit. Setelah ejakulasi terjadi atau jika gairah seks memudar, proses detumescence terjadi, di mana otak akan mengirimkan sinyal yang memungkinkan darah meninggalkan penis, akibatnya penis menjadi lemas kembali.











 







Gambar  Potongan melintang penis



Selaput albuginea

Adalah sebuah membran yang mengelilingi corpora cavenosa. Membran ini berfungsi untuk menjaga darah tetap berada di dalam penis selama ereksi terjadi.3



Uretra

Uretra adalah tabung yang menjadi saluran tempat urin keluar. Proses ejakulasi juga melalui uretra. Letaknya menyusuri batang penis di bawah corpora cavernosa dan melebar pada ujung uretra yang disebut meatus. Meatus terletak di glans (kepala penis).



Corpus spongiosum

Corpus spongiosum adalah salah satu bagian anatomi penis berbentuk ruang yang mengelilingi uretra. Ruangan ini menjadi penuh dengan darah selama ereksi.



Glans (kepala penis)

Kepala penis berbentuk seperti kerucut. Kepala penis sangat sensitif dan biasanya tertutup oleh kulup kecuali pada penis yang ereksi. Kepala penis memiliki beberapa fungsi yaitu meningkatkan peluang untuk pembuahan telur, menciptakan gesekan saat berhubungan seks, dan bertindak sebagai penumbuk atau penekan di dalam vagina selama hubungan seksual.



Frenulum

Organ anatomi ini adalah salah satu area yang sangat sensitif pada penis, lokasinya terletak di bagian bawah glans (kepala penis).



Smegma

Yaitu cairan pelumas alami yang dikeluarkan untuk membuat penis tetap lembab. Smegma ditemukan di bawah kulup penis.



Scrotum (kantung kemaluan)

Skrotum adalah salah satu organ eksternal anatomi penis pria berbentuk kantung yang menggantung di belakang dan di bawah penis, dan berisi testis (buah zakar). Fungsi utama skrotum adalah untuk menjaga suhu testis tetap pada sekitar 34ο C, suhu di mana testis paling efektif menghasilkan sperma.



Testis

Merupakan kelenjar seksual laki-laki, ada dua testis dalam skrotum yang berfungsi menghasilkan sperma dan hormon testosteron. Setiap testis menghasilkan hampir 150 juta sperma setiap 24jam.












Gambar Penampang testis





Etiologi

Ketakutan laki-laki  karena ukuran penisnya terlalu kecil dan tidak akan memuaskan pasangannya. Kebanyakan laki-laki yang berpikir penis mereka terlalu kecil sesungguhnya memiliki penis berukuran normal. Alasan lain yang sering muncul hanya untuk meningkatkan kepercayaan dirinya. Banyak upaya keliru yang dilakukan laki-laki untuk pembesaran penis. Korban praktik-praktik yang tidak ilmiah tidak muncul kepermukaan karena mereka tidak berani mengungkap kasusnya secara terbuka.  Akhirnya, masyarakat menjadi tidak mengetahui akibat buruk dari praktik-praktik pembesaran penis yang tidak ilmiah seperti ini. Yang mengkhawatirkan, banjirnya informasi yang menawarkan berbagai jenis praktek memperbesar penis yang tidak bisa dipertanggungjawabkan. Ia menyatakan, alat-alat bantu yang ditujukan secara komersial untuk pembesaran penis dapat berbahaya bagi kesehatan seksual laki-laki yang bisa mengakibatkan kerusakan permanen pada penis.

Penyakit ini terjadi akibat injeksi silikon ke kulit penis dengan tujuan memperbesar penis. Biasanya hal ini dilakukan oleh dokter bedah plastik, namun tidak jarang ada jasa suntik silikon ilegal yang dilakukan oleh tenaga yang bukan dokter sehingga terjadi kerusakan pada alat kelamin.

Embriologi

Ginjal berasal dari metanefron yang terdiri atas bagian dorsal mesonefros dan tonjol ureter. Metanefros ini membentuk ureter, pielum, kaliks ginjal, dan jaringan parenkim ginjal. Struktur ini naik kea rah dorsokranial sewaktu perkembangannya sekitar minggu kedelapan menyatu dengan blastema dan mengalami rotasi sehingga akhirnya pielum dan hilusnya terletak disebelah medial.

     Sementara itu, kloaka yang merupakan ujung buntu usus belakang, dibagi dua sehingga membentuk sinus urogenital di sebeloah ventral dan rectum disebelah dorsal. Dari sinus urogenital yang membentuk sebagian uretra dan kandung kemih

Patifisiologi

Penis disamping berfungsi sebagai alat reproduksi, juga berperan penting dalam menjalankan fungsi rekreasi dalam hubungan seksual. Secara histologi penis tersusun dominan oleh jaringan ikat dan hanya sedikit otot bergaris, maka sejak puberitas hingga usia 16-17 tahun, ukuran penis sudah tidak bisa lagi mengalami perubahan. Sedangka sebelum usia tersebut, ukuran penis masih bisa berkembang karena pengaruh hormon, terutama testoteron.

Dampak dari penggunaan suntik silicon atau memasukkan benda asing ke tubuh, baik dalam bentuk cairan maupun dengan cara-cara tradisional lainnya, ternyata cukup berbahaya. Penggunaan dari benda-benda asing tersebut sangat berbahaya, bahkan lebih parah lagi dengan sendirinya penis akan membusuk dan putus.

Setelah silicon disuntik ke dalam penis, maka tubuh akan bereaksi dan terjadi peradangan. Peradangan tersebutt akan berlanjut ke mobolisasi sel-sel radang yang berusaha menghancurkan bagian dalam penis. Akibatnya timbul bengkak, nyeri, agak kemerahan, dan itu prosesnya berlangsung terus. Pada kedaan tertentu radang akan hilang, namun pembengkakkan akan permanen dan berlanjut menjadi pembentukkan jaringan ikat semacam bekas luka ke bagian dalam penis. Jaringan ikat tersebut akan berlanjut dalam waktu yang lama dan menjadi luka, bahkan jika infeksi, maka proses penyembuhannya akan lama dan susah, bahkan rawan untuk bakteri lain ikut menyerang. Jika tidak di tolong secepat mungkin oleh dokter spesialis, maka resikonya penis dengan sendirinya membusuk dan putus dengan sendirinya.

Manifestasi Klinik

Setelah disuntikan silikon cair, zat tersebut akan menggenang pada area penis yang disuntik sehingga ukurannya bertambah dari kondisi normal. Jika tubuh tidak dapat menyerap kembali zat yang disuntikan maka zat tersebut akan menjadi benda alien didalam tubuh dan  Penyuntikan silikon cair tidak mengakibatkan kematian, tetapi dapat mengakibatkan kerusakan jaringan yang bersifat permanen. Yaitu mengakibatkan efek buruk seperti pembengkakan sehingga bentuk penis tidak beraturan, kemerahan, terasa panas, gatal, nyeri dan kadang sampai terjadi luka lecet.



A.  Gambaran Histopatology





























































 








 B.  Komplikasi

-          Infeksi

-          Obstuksi Uretra

-          Ruptur pada uretra

-          HIV/ AIDS

-          Pertumbuhan menjadi sel liar

-          Gangren penis



C.  Pemeriksaan Penunjang

-    Darah lengkap

-    Rontgen

-    Biopsi perkembangan jaringan

D.  Penatalaksanaan

Pengobatan penghilang nyeri, radang, dan penurun bengkak hanya bersifat sementara. Secara logika kedokteran silicon cair yang terlanjur disuntikan ke dalam jaringan penis tak mungkin dikeluarkan dengan cara dipijit-pijit. Satu-satunya cara yaitu dengan pembedahan  untuk mengambil silikon yang memenuhi alat kelamin tersebut.

Silikonoma yang disebabkan oleh suntikan silikon di penis menyebabkan silikonoma sehingga terjadi pembengkakan dan ditemukannya massa sirkuler saat palpasi.

Tata Laksana: dilakukan insisi di daerah pubis dan skrotum. Tindakan ini tidak akan mengembalikan ukuran, namun dapat menghilangkan nyeri saat ereksi

Terapi definitif pada pasien dengan kasus silikonoma penis meliputi eksisi dan pengangkatan lengkap massa yang terdapat pada jaringan kulit maupun subkutan yang bisa menyebabkan gangguan fungsi organ, teknik ini merupakan metode yang tepat untuk menghindari gejala penyakit ini muncul lagi di masa depan. Terdapat juga teknik lain yaitu kombinasi antara teknik di atas dengan teknik penggunaan Scrotal Flaps atau  Split Thickening Skin Grafts. Pada teknik scrotal flaps setelah seluruh massa diangkat, kemudian dilakukan skin flap menggunakan kulit skrotum yang di vaskularisasi oleh cabang posterior arteri pudenda interna atau cabang anterior arteri pudenda eksterna sebagai flap. Split Thickening Skin Grafts merupakan skin graft yang meliputi seluruh bagian epidermis dan dermis. Cara ini lebih dapat diterima dari segi kosmetika dan perbaikan fungsi seksual. Bisa menggunakan kulit dari bagian inguinal maupun kulit asli dari penis.











 
















 



 
                                           Gambar scrotal flap



Medikamentosa

            - Antibiotik

            - NSAID

            - Antihistamin

E.   Pencegahan

a.       Sebagai seorang dokter umum harus melarang apabila ada seseorang yang berniat melakukan suntik silikon atau bahan lainnya

b.      Tindakan injeksi silikon hanya dilakukan oleh dokter ahli, misalnya dokter spesialis bedah plastik. Melakukan edukasi tentang efek samping penyuntikan silikon cair atau bahan lainnya.

c.       Konsultasi dengan dokter ahli sebelum melakukan tindakan untuk memperbaiki penampilan

d.      Memberikan edukasi kepada pasien silikonoma bahwa tindakan pembedahan tidak akan mengembalikan seperti keadaan semula, karena silikon atau bahan cair lainnya sudah masuk ke sela jaringan dan tidak bisa diangkat sepenuhnya.

F.   Prognosis

            Pengangkatan seluruh massa merupakan satu-satunya penanganan yang efektif dan tepat. Kekambuhan dapat terjadi pada kasus eksisi yang tidak lengkap.



Selasa, 08 November 2016

INI SALAH SATU PENYAKIT YANG BERBAHAYA PADA WANITA!



Definisi
Mioma uteri adalah neoplasma jinak yang berasal dari lapisan otot uterus dan jaringan ikat yang menumpangnya, sehingga dalam kepustakaan juga dikenal istilah fibromioma, leiomioma, ataupun fibroid.(Hanifa dkk, 2008)

Epidemiologi
Berdasarkan otopsi Novak menemukan 27 % wanita berumur 25 tahun mempunyai sarang mioma, pada wanita yang berkulit hitam ditemukan lebih banyak lagi. Mioma uteri belum pernah dilaporkan terjadi sebelum menarki . Setelah menopause hanyakira-kira 10% mioma yang masih bertumbuh. Di Indonesia mioma uteri ditemukan 2,39-11,7 % dari semua penderita genekologi yang dirawat.(Hanifa dkk, 2008)

Etiopatogenesis
Etiologi pasti belum diketahui, tetapi terdapat korelasi antara pertumbuhan tumor dengan peningkatan reseptor estrogen-progesteron pada jaringan mioma uteri, serta adanya faktor predisposisi yang bersifat herediter. Pada ilmuwan telah mengidentifikasi kromosom yang membawa 145 gen yang diperkirakan berpengaruh pada pertumbuhan fibroid. Beberapa ahli mengatakan bahwa fibroid uteri diwariskan dari gen sisi paternal. Mioma biasanya membesar pada saat kehamilan dan mengecil setelah menopause, sehingga diperkirakan dipengaruhi juga oleh hormon-hormon reproduksi seperti estrogen dan progesteron. Selain itu, sangat jarang ditemukan sebelum menarke, dapat tumbuh dengan cepat selama kehamilan dan kadang mengecil setelah menopause (Hakim, 2009).
Meyer dan De Snoo mengajukan teori Cell nest atau teori genitoblast. Percobaan Lipschutz yang memberikan estrogen kepada kelinci percobaan ternyata menimbulkan tumor fibromatosa baik pada permukaan maupun pada tempat lain dalam abdomen. Efek fibromatosa ini dapat dicegah dengan pemberian preparat progesteron atau testosteron. Puukka dan kawan-kawan menyatakan bahwa reseptor estrogen pada mioma lebih banyak didapati dari pada miometrium normal. Menurut Meyer asal mioma adalah sel imatur, bukan dari selaput otot yang matur (Hanifa, 2008).

Klasifikasi Mioma Uteri
Sarang mioma di uterus dapat berasal dari serviks uteri (1-3%) dan selebihnya adalah dari korpus uteri. Menurut tempatnya di uterus dan menurut arah pertumbuhannya, maka mioma uteri dibagi 4 jenis antara lain:
1. Mioma submukosa
2. Mioma intramural
3. Mioma subserosa
4. Miomaintraligamenter





Gambar Jenis-jenis mioma uterus
Jenis mioma uteri yang paling sering adalah jenis intramural (54%), subserosa (48%), submukosa (6,1%) dan jenis intraligamenter (4,4%) (Anonim, 2008).
1. Mioma submukosa
Berada di bawah endometrium dan menonjol ke dalam rongga uterus. Jenis ini dijumpai 6,1% dari seluruh kasus mioma. Jenis ini sering memberikan keluhan gangguan perdarahan. Mioma jenis lain meskipun besar mungkin belum memberikan keluhan perdarahan, tetapi mioma submukosa, walaupun kecil sering memberikan keluhan gangguan perdarahan.
Mioma submukosa umumnya dapat diketahui dari tindakan kuretase, dengan adanya benjolan waktu kuret, dikenal sebagai currete bump dan dengan pemeriksaan histeroskopi dapat diketahui posisi tangkai tumor.
Tumor jenis ini sering mengalami infeksi, terutama pada mioma submukosa pedinkulata. Mioma submukosa pedinkulata adalah jenis mioma submukosa yang mempunyai tangkai. Tumor ini dapat keluar dari rongga rahim ke vagina, dikenal dengan nama mioma geburt atau mioma yang dilahirkan, yang mudah mengalami infeksi, ulserasi dan infark. Pada beberapa kasus, penderita akan mengalami anemia dan sepsis karena proses di atas.
2. Mioma intramural
Terdapat di dinding uterus di antara serabut miometrium. Karena pertumbuhan tumor, jaringan otot sekitarnya akan terdesak dan terbentuk simpai yang mengelilingi tumor. Bila di dalam dinding rahim dijumpai banyak mioma, maka uterus akan mempunyai bentuk yang berbenjol-benjol dengan konsistensi yang padat. Mioma yang terletak pada dinding depan uterus, dalam pertumbuhannya akan menekan dan mendorong kandung kemih ke atas, sehingga dapat menimbulkan keluhan miksi.
3. Mioma subserosa
Apabila mioma tumbuh keluar dinding uterus sehingga menonjol pada permukaan uterus diliputi oleh serosa. Mioma subserosa dapat tumbuh di antara kedua lapisan ligamentum latum menjadi mioma intraligamenter.
4. Mioma intraligamenter
Mioma subserosa yang tumbuh menempel pada jaringan lain, misalnya ke ligamentum atau omentum kemudian membebaskan diri dari uterus sehingga disebut wondering parasitis fibroid. Jarang sekali ditemukan satu macam mioma saja dalam satu uterus. Mioma pada servik dapat menonjol ke dalam satu saluran servik sehingga ostium uteri eksternum berbentuk bulan sabit.
Apabila mioma dibelah maka tampak bahwa mioma terdiri dari bekas otot polos dan jaringan ikat yang tersusun seperti kumparan (whorie like pattern) dengan pseudokapsul yang terdiri dari jaringan ikat longgar yang terdesak karena pertumbuhan.

Perubahan Sekunder
a)    Atrofi: sesudah menopause ataupun sesudah kehamilan mioma uteri menjadi kecil.
b)    Degenerasi hialin: perubahan ini sering terjadi terutama pada penderita berusia lanjut. Tumor kehilangan struktur aslinya menjadi homogen. Dapat meliputi sebagian besar atau hanya sebagian kecil daripadanya, seolah-olah memisahkan satu kelompok serabut otot dari kelompok lainnya.
c)    Degenerasi kistik: dapat meliputi daerah kecil maupun luas, dimana sebagian dari mioma menjadi cair, sehingga terbentuk ruangan-ruangan yang tidak teratur berisi seperti agar-agar, dapat juga terjadi pembengkakan yang luas dan bendungan limfe sehingga menyerupai limfangioma. Dengan konsistensi yang lunak ini tumor sukar dibedakan dari kistoma ovarium atau suatu kehamilan.
d)    Degenerasi membatu (calcireous degeneration): terutama terjadi pada wanita berusia lanjut oleh karena adanya gangguan dalam sirkulasi. Dengan adanya pengendapan garam kapur pada sarang mioma maka mioma menjadi keras dan memberikan bayangan pada foto Rontgen.
e)    Degenerasi merah (carneous degeneration): perubahan ini biasanya terjadi pada kehamilan dan nifas. Patogenesis: diperkirakan karena suatu nekrosis subakut sebagai gangguan vaskularisasi. Pada pembelahan dapat dilihat sarang mioma seperti daging mentah berwarna merah disebabkan oleh pigmen hemosiderin dan hemofusin. Degenerasi merah tampak khas apabila terjadi pada kehamilan muda disertai emesis, haus, sedikit demam, kesakitan, tumor pada uterus membesar dan nyeri pada perabaan. Penampilan klinik ini seperti pada putaran tangkai tumor ovarium atau mioma bertangkai.
f)     Degenerasi lemak: jarang terjadi, merupakan kelanjutan degenerasi hialin.

GejalaKlinis
Gejala yang dikeluhkan sangat tergantung pada tempat sarang mioma ini berada (servik, intramural, submukus, subserus), besarnya tumor, perubahan dan komplikasi yang terjadi. Keluhan yang dirasakan penderita Mioma Uteri sebagai keluhan utama pada umumnya adalah :

Perdarahan abnormal
Gangguan perdarahan yang terjadi umumnya adalah hipermenore, menoraghi dan dapat juga terjadi metroragia . Hal ini sering menyebabkan penderita juga mengalami anemia dari perdarahan yang terus-menerus (Lacey.C.G., 2007).
Mekanisme terjadinya perdarahan abnormal ini sampai saat ini masih menjadi perdebatan. Beberapa pendapat menjelaskan bahwa terjadinya perdarahan abnormal ini disebabkan oleh abnormalitas dari endometrium (Lacey.C.G., 2007). Tetapi saat ini pendapat yang dianut adalah bahwa perdarahan abnormal ini disebabkan karena pengaruh ovarium sehingga terjadilah hiperplasia endometrium sampai adenokarsinoma, permukaan endometrium yang lebih luas, atrofi endometrium di atas mioma submukosum, dan miometrium tidak dapat berkontraksi optimal karena adanya sarang mioma diantara serabut miometrium . Pada Mioma Uteri submukosum diduga terjadinya perdarahan karena kongesti, nekrosis, dan ulserasi pada permukaan endometrium (Muzakir, 2008)

Nyeri
Rasa nyeri bukanlah gejala yang khas tetapi dapat timbul karena gangguan sirkulasi darah pada sarang mioma. Pada pengeluaran mioma submukosum yang akan dilahirkan, pula pertumbuhannya yang menyempitkan kanalis servikalis dapat menyebabkan juga dismenore. Selain hal diatas, penyebab timbulnya nyeri pada kasus mioma uteri adalah karena proses degenerasi. Selain itu penekanan pada visera oleh ukuran mioma uteri yang membesar juga bisa menimbulkan keluhan nyeri.  Dengan bertambahnya ukuran dan proses inflamasi juga menimbulkan rasa yang tidak nyaman pada regio pelvis.(Muzakir, 2008)
Efek penekanan
Gangguan ini tergantung dari besar dan tempat mioma uteri. Penekanan oleh mioma uteri pada vesiko urinaria menimbulkan keluhan-keluhan pada traktus urinarius, seperti perubahan frekuensi miksi sampai dengan keluhan retensio urin hingga dapat menyebabkan hidroureter dan hidronefrosis (Lacey.C.G., 2007)..
Konstipasi dan tenesmia juga merupakan keluhan pada penderita mioma uteri yang menekan rektum. Dengan ukuran yang besar berakibat penekanan pada vena-vena di regio pelvis yang bisa menimbulkan edema tungkai (Muzakir, 2008)

Gejala akibat  Komplikasi
-       Degenerasi ganas
Mioma uteri yang menjadi leimiosarkoma ditemukan hanya 0,32-0,6% dari seluruh kasus mioma uteri serta merupakan 50-75% dari semua sarkoma uterus. Keganasan umumnya baru ditemukan pada pemeriksaan histologi uterus yang telah diangkat. Komplikasi ini dicurigai jika ada keluhan nyeri atau ukuran tumor yang semakin bertambah besar terutama jika dijumpai pada penderita yang sudah menopause (Lacey.C.G., 2007).

-       Anemia
Anemia timbul karena seringkali penderita mioma uteri mengalami perdarahan pervaginam yang abnormal. Perdarahan abnormal pada kasus mioma uteri akan mengakibatkan anemia defisiensi besi(Marjono, 2008)

-       Torsi
Sarang mioma yang bertangkai dapat mengalami torsi, timbul gangguan sirkulasi akut sehingga mengalami nekrosis. Dengan demikian timbul sindroma abdomen akut, mual, muntah dan syok

-       Infertilitas
Infertilitas dapat terjadi apabila sarang mioma menutup atau menekan pars interstisialis tuba, sedangkan mioma uteri submukosum juga memudahkan terjadinya abortus oleh karena distorsi rongga uterus. Penegakkan diagnosis infertilitas yang dicurigai penyebabnya adalah mioma uteri maka penyebab lain harus disingkirkan (Lacey.C.G., 2007).

Diagnosis
1.    Anamnesis
Dalam anamnesis dicari keluhan utama serta gejala klinis mioma lainnya, faktor resiko serta kemungkinan komplikasi yang terjadi.
2.    Pemeriksaanfisik
Pemeriksaan status lokalisdenganpalpasi abdomen.Mioma uteri dapatdidugadenganpemeriksaanluarsebagai tumor yang keras, bentuk yang tidakteratur, gerakanbebas, tidaksakit.
3.    Pemeriksaanpenunjang
a.    Pemeriksaanlaboratorium
Akibat yang terjadipadamioma uteri adalah anemia akibatperdarahan uterus yang berlebihandankekuranganzatbesi.Pemeriksaaanlaboratorium yang perludilakukanadalahdarahlengkap (DL) terutamauntukmencarikadarHb. Pemeriksaaan lab lain disesuaikandengankeluhanpasien.
b.    Imaging
1)    Pemeriksaaan dengan USG akan didapat massa padat dan homogen pada uterus. Mioma uteri berukuran besar terlihat sebagai massa pada abdomen bawah dan pelvis dan kadang terlihat tumor dengan kalsifikasi.
2)    Histerosalfingografi digunakan untuk mendeteksi mioma uteri yang tumbuh ke arah kavum uteri pada pasien infertil.
3)    MRI lebih akurat untuk menentukan lokasi, ukuran, jumlah mioma uteri, namun biaya pemeriksaan lebih mahal.
Diagnosis banding yang perlu kita pikirkan tumor abdomen di bagian bawah atau panggul ialah mioma subserosum dan kehamilan; mioma submukosum yang dilahirkan harus dibedakan dengan inversio uteri; mioma intramural harus dibedakan dengan suatu adenomiosis, khoriokarsinoma, karsinoma korporis uteri atau suatu sarkoma uteri. USG abdominal dan transvaginal dapat membantu dan menegakkan dugaan klinis.

Diagnosis banding
  1. Adenomiosis
  2. Neoplasmaovarium
  3. Kehamilan

Penanganan
Penanganan mioma menurut usia, paritas, lokasi dan ukuran tumor
Tidak semua mioma uteri memerlukan terapi pembedahan. Kurang lebih 55% dari semuakasus mioma uteri tidak membutuhkan suatu pengobatan apapun, apalagi jika ukuran mioma uteri masih kecil dan tidak menimbulkan keluhan.
Penanganan mioma uteri tergantung pada usia, paritas, lokasi dan ukuran tumor, dan terbagi atas :
  1. Penanganankonservatif
Cara penanganan konservatif dapat dilakukan sebagai berikut :
-          Observasidenganpemeriksaan pelvis secaraperiodiksetiap 3-6 bulan.
-          Monitor keadaanHb
-          Pemberianzatbesi
-          Penggunaan agonis GnRH, agonis GnRH bekerja dengan menurunkan regulasi gonadotropin yang dihasilkan oleh hipofisis anterior. Akibatnya, fungsi ovarium menghilang dan diciptakan keadaan ”menopause” yang reversibel. Sebanyak 70% mioma mengalam reduksi dari ukuran uterus telah dilaporkan terjadi dengan cara ini, menyatakan kemungkinan manfaatnya pada pasien perimenopausal dengan menahan atau mengembalikan pertumbuhan mioma sampai menopause yang sesungguhnya mengambil alih. Tidak terdapat resiko penggunaan agonis GnRH jangka panjang dan kemungkinan rekurensi mioma setelah terapi dihentikan tetapi, hal ini akan segera didapatkan dari pemeriksaan klinis yang dilakukan (Muzakircit Alexander, 2004).

  1. Penangananoperatif
Indikasi operasi atau pembedahan pada penderita mioma uteri adalah :
-       Perdarahan pervaginam abnormal yang memberat
-       Ukuran tumor yang besar
-       Ada kecurigaan perubahan ke arah keganasan terutama jika pertambahanukuran tumor setelah menopause
-       Retensio urin
-       Tumor yang menghalangi proses persalinan
-       Adanya torsi (Muzakircit Moore, 2001).


Jenisoperasi yang dilakukanpadamioma uteri dapatberupa :
-          Miomektomi
Miomektomi adalah pengambilan sarang mioma tanpa pengangkatan rahim/uterus (MuzakircitRayburn, 2001). Miomektomi lebih sering di lakukan pada penderita mioma uteri secara umum. Suatu studi mendukung miomektomi dapat dilakukan pada wanita yang masih ingin be reproduksi tetapi belum ada analisa pasti tentang teori ini tetapi penatalaksanaan ini paling disarankan kepada wanita yang belum memiliki keturunan setelah penyebab lain disingkirkan (MuzakircitChelmow, 2005).
-          Histerektomi
Histerektomi adalah tindakan operatif yang dilakukan untukmengangkat rahim, baik sebahagian (subtotal) tanpa serviks uteri ataupun seluruhnya (total) berikut serviks uteri (MuzakircitPrawirohardjo, 2001).
Histerektomi dapat dilakukan dengan 3 cara, yaitu dengan pendekatan perabdominal (laparotomi), pervaginam,  dan pada beberapa kasus secara laparoskopi. Tindakan histerektomi pada mioma uteri sebesar 30% dari seluruh kasus.Tindakan histerektomi pada pasien dengan mioma uteri merupakan indikasi bila didapatkan keluhan menorrhagia, metrorrhagia, keluhan obstruksi pada traktus urinarius, dan ukuran uterus sebesar usia kehamilan 12-14 minggu (Hadibroto, 2005).
Histerektomi perabdominal dapat dilakukandengan 2 cara, yaitu total abdominal histerektomi (TAH) dan subtotal abdominal histerektomi (STAH). Masing-masing prosedur histerektomi ini memiliki kelebihan dan kekurangan. STAH dilakukan untuk menghindari risiko operasi yang lebih besar, seperti perdarahan yang banyak, trauma operasi pada ureter, kandung kemih dan rektum. Namun dengan melakukan STAH akan menyisakan serviks, dimana kemungkinan timbulnya karsinoma serviks dapat terjadi. Dengan menyisakan serviks, menurut penelitian didapatkan data bahwa terjadinya dyspareunia akan lebih rendah dibandingkan dengan yang menjalani TAH sehingga akan tetap mempertahankan fungsi seksual. Pada TAH, jaringan granulasi yang timbul pada vagina dapat menjadi sumber timbulnya sekret vagina dan perdarahan pasca operasi dimana keadaan ini tidak terjadi pada pasien yang menjalani STAH (Hadibroto, 2005).
Tindakan histerektomi juga dapat dilakukan melalui pendekatan vagina, dimana tindakan operasi tidak melalui insisi pada abdomen. Histerektomi pervaginam jarang dilakukan karena uterus harus lebih kecil dari telor angsa dan tidak ada perlekatan dengan sekitarnya. Secara umum, histerektomi vaginal hamper seluruhnya merupakan prosedur operasi ekstraperitoneal, dimana peritoneum yang dibuka sangat minimal sehingga trauma yang mungkin timbul pada usus dapat diminimalisasi. Selain itu, kemungkinan terjadinya perlengketan paska operasi juga lebih minimal. Masa penyembuhan pada pasien yang menjalani histerektomi vaginal lebih cepat dibandingkan dengan yang menjalani histerektomi abdominal (Hadibroto, 2005).
.
Kriteria menurut American College of Obstetricians Gynecologists (ACOG) untuk histerektomi adalah sebagai berikut :
-          Terdapatnya 1 sampai 3 mioma asimptomatik atau yang dapat teraba dari luar dan dikeluhkan oleh pasien.
-          Perdarahan uterus berlebihan, meliputi perdarahan yang banyak dan bergumpal-gumpal atau berulang-ulang selama lebih dari 8 haridan anemia akibat kehilangan darah akut atau kronis.
-          Rasa tidak nyaman di pelvis akibat mioma uteri meliputi nyeri hebat dan akut, rasa tertekan punggung bawah atau perut bagian bawah yang kronis dan penekanan pada vesikaurinaria mengakibatkan frekuensi miksi yang sering (MuzakircitChelmow, 2005).

Penatalaksanaan mioma uteri pada wanita hamil
Selama kehamilan, terapi awal yang memadai adalah tirah baring, analgesia dan observasi terhadap mioma. Penatalaksanaan konservatif selalu lebih disukai apabila janin imatur. Namun, pada torsi akut atau perdarahan intra abdomen memerlukan interfensi pembedahan. Seksio sesarea merupakan indikasi untuk kelahiran apabila mioma uteri menimbulkan kelainan letak janin, inersia uteri atau obstruksi mekanik (Muzakir cit Taber, 2004).